Akar di Bawah Badai

Karya: IKI HERLIANA


Di balik riuh suara angin yang mengoyak angkasa,
ada sunyi yang menanam dirinya di dalam tanah.
Bukan menyerah pada gerimis yang menguji sabar,
namun menghunjam, mencari mata air di kedalaman.

​Garis-garis retak di telapak tangan ini
adalah peta dari perjalanan yang belum usai
Kita adalah batu karang yang kerap diterpa buih,
namun tetap tegak,
membiarkan ombak memecah diri di dada.

​Malam mungkin merangkak perlahan tanpa ujung,
membawa dingin yang membeku hingga ke tulang.
Namun di bilik dada, sekecil apa pun nyala itu,
ia menolak padam oleh kelam yang panjang.

​Bertahan bukan tentang tiadanya badai yang datang,
melainkan tentang kaki yang terus berpijak tenang,
menunggu fajar menepis sisa-sisa bayangan,
membuka jalan bagi hari yang kembali terang.


Tambun Barat, Gabus, diwarkop, 3 Juli 2023