Liturgi bagi Sebuah Penolakan
Karya: Eka Sri Wahyuni, S.Psi, M.PsiLiturgi bagi Sebuah Penolakan
Kupahat luka agar kau tahu,
sepedih apa mencintaimu.
Kisah lama, katamu; mengapa gemanya masih nyaring
di ruang sunyiku yang hening?
Dulu kucari surga pada manusia,
yang kutemu hanya luka dan sia-sia.
Kini kupahami semua pintu itu
hanyalah jalan memutar menuju-Mu.
Kutanggalkan kesombongan yang kian tumbuh,
air mata jadi saksi, diam menjadi altar,
jiwaku remuk dan tak pandai berpura-pura utuh,
namun aku datang, doaku patah dan gemetar.
Kekasih, adakah pintu bagi rinduku?
Kuketuk lama, entah Kau mendengarku.
Panggil namaku sekali saja, jangan Kau tolak,
aku tak mau berpisah, hatiku retak.
Bila penolakan jadi jawaban,
aku bertahan tanpa kebencian.
Mencintai tak harus memiliki,
pintu tak terbuka sebab kuketuk berkali-kali.
Yang paling pedih bukan Engkau menolakku,
melainkan aku menjauh, lalu menyalahkan-Mu.
Mojokerto, 19 November 2018