ARUNIKA DI BALIK NESTAPA
Karya: DEA VASHTY FATIMAH GHAITSDi rahim malam, kusulam sunyi bersama doa,
menanti arunika merekah di ufuk cakrawala.
Ada lara yang tak menemukan aksara,
namun menetap diam di relung sukma.
Pernah asa luruh sebelum sempat berbunga,
ketika langkah tertatih di belantara nestapa.
Namun, di antara serpihan harapan yang tersisa,
masih ada pradipta yang enggan kehilangan cahaya.
Wahai semesta,
jika takdir menghamparkan jalan berduri,
biarkan kakiku tetap mengenali arah,
meski sukma ku sesekali letih menanggung perih.
Aku belajar merangkai luka menjadi aksara,
adalah bentuk mengabadikan perih tanpa mengutuk sebuah perjalanan.
Sebab bertahan bukan berarti tanpa air mata,
melainkan menjaga asa di tengah prahara.
Kelak, saat fajar mengecup cakrawala,
akan kupahami segala sesuatu yang pernah menyapa.
Bahwa aku tak harus utuh untuk tetap berharga,
tak harus perkasa untuk disebut manusia.
Dan apabila dunia kembali diselimuti gulita,
biarlah sukma menjadi pelita bagi dirinya.
Sebab selama harapan masih bersemayam di dada ini,
aku akan tetap melangkah,
meski dengan doa yang bergetar,
meski dengan jiwa yang belum sepenuhnya reda.
Pati, 1 November 2026