Pagi yang tak lagi ku nanti

Karya: Siti Fatimah


Pendar mentari menyelinap
melalui celah jendela.
Kubuka tirai perlahan,
membiarkan hangatnya singgah.

Kopi kuracik untuknya,
secangkir kutaruh di meja,
berharap ia datang menyapa.

Meja kutata dengan bunga,
menyambut hari penuh harap,
sementara waktu terus merangkak.

Namun, saat Magrib berkumandang,
kursi di hadapanku tetap kosong.
Kopi mendingin tanpa tersentuh,
bunga diam di antara sunyi.

Bukan kali pertama
janji membawaku pada penantian.

Pagi berikutnya,
mentari kembali menyelinap.
Tirai tak lagi kubuka,
kopi tak lagi kuracik.
Di meja, bunga-bunga tetap ada,
meski tak ada yang kutunggu.


Sukoharjo, 23 Oktober 2026