Rumah yang tidak runtuh
Karya: Rieka Pitaloka Enjelina MPernah kusangka ia akan runtuh,
di malam ketika semua lampu padam,
ketika doa-doa pulang dengan tangan hampa,
dan lantai dipenuhi pecahan piring dan janji
Hujan pernah masuk tanpa permisi,
membasahi semua album foto,
tinta luntur, wajah-wajah jadi kabur,
tapi kami tertawa,
karena akhirnya kami ingat dengan hati, bukan dengan foto.
Ia tidak runtuh,
karena di dalamnya masih ada yang saling menunggu,
masih ada panci yang mendidih untuk dua orang,
masih ada yang bilang "hati-hati di jalan"
meski semalam baru saja bertengkar hebat.
Ini bukan rumah paling indah di kampung ini,
tapi ini satu-satunya rumah
yang tidak runtuh
meski sudah berkali-kali
hampir ingin kami runtuhkan sendiri.
Sumatra Utara, 29 Oktober 2026