Langit Yang Menangis

Karya: Maria Lisanti Amasanan


Langit yang menangis sore itu
tidak sedang marah,
ia hanya sedang jujur.
Awan-awan menggantung berat,
seolah menyimpan terlalu banyak cerita
yang akhirnya tak mampu lagi dipendam.
Titik-titik hujan jatuh perlahan,
menyentuh tanah dengan lembut,
seperti air mata yang tak ingin dilihat siapa pun.
Angin berhembus pelan,
membawa aroma basah
yang selalu mengingatkan bahwa luka pun
punya caranya sendiri untuk sembuh.
Aku berdiri di bawahnya,
membiarkan rintik-rintik itu membasahi wajahku.
Entah mana yang hujan,
entah mana yang air mata.
Kadang hati juga seperti langit
terlihat tenang dari jauh,
padahal di dalamnya petir sedang bertarung
dan awan saling berbenturan.
Langit yang menangis
tidak membuat dunia hancur.
Ia justru menyuburkan tanah,
menyegarkan daun-daun yang lelah,
dan memberi kehidupan pada benih-benih
yang diam-diam menunggu.
Barangkali kita pun begitu.
Tangis bukan tanda lemah,
melainkan tanda bahwa kita masih merasa.
Bahwa hati ini belum mati rasa,
bahwa harapan masih tersisa
meski tertutup mendung.
Dan setelah hujan reda,
selalu ada langit yang lebih bersih.
Kadang pelangi muncul tanpa diduga,
sebagai bisikan lembut dari Tuhan:
bahwa setiap air mata
tak pernah jatuh sia-sia.
Langit yang menangis mengajarkanku satu hal
tidak apa-apa untuk runtuh sesaat,
selama kita percaya
bahwa sesudahnya
akan ada terang yang kembali menyapa


Kefamenanu, 17 Oktober 2026