Elegi Orang Paling Waras
Karya: Khansa Prameswari KhairSenja belum lagi meninggalkan bayang,
aku terduduk,
tidak mengetukkan jari,
tanpa kopi ataupun koran basi.
Digerogoti impian enggan mati.
Dikungkung nestapa
yang lahir di ambara.
Kata orang aku dikerangkeng waktu,
dibodohi hal semu.
Mungkin visiku telanjur bias
atau romanku ampas.
Tapi aku tidak mengemis belas
sebab aku ini orang paling waras.
Aku yang dicium kegelapan dan dinikahi kehampaan,
hanya mampu mencintai Sang Bulan.
Seluruhku menghamba pada pusat pemujaan.
Meski Sang Bulan sudah habis,
tak ada lagi yang tersisa pada dirinya,
sebab sepotong demi sepotong sinarnya,
lagi kecantikannya,
semua disedekahkan pada Buminya.
Namun aku orang paling waras,
yang sabar menadah gerimis
meski cinta Sang Bulan sudah habis.
Kukatakan, aku masih terduduk,
tidak memindahkan kaki,
padahal bayang mulai menusuk.
Yogyakarta, 24 Mei 2024