Tulang Rusuk Sebuah Badai

Karya: Gusti Ayu Mirah Mahardani


Badai tidak pernah bertanya siapa yang sanggup.
Ia datang merobohkan yang berdiri paling gagah,
mematahkan tiang-tiang yang menyangka dirinya baja.
Namun ada yang bertahan tanpa suara
bukan dengan otot, bukan dengan teriak,
melainkan dengan tulang rusuk yang tipis
yang memilih menjadi rangka di dalam badai itu sendiri.

Aku belajar bahwa yang menopang dunia
bukan yang paling keras,
tapi yang paling rela remuk tanpa terlihat.
Seperti akar yang menahan pohon dari dalam tanah,
seperti doa yang tak pernah didengar namun menjaga langit tetap tegak.

Bertahan bukan berarti tak pernah patah.
Bertahan adalah memilih menjadi penopang
ketika semua orang memilih menjadi angin.


Denpasar, 18 Oktober 2026