Sisa Nama di Lipatan Angin

Karya: Yuliana Mesa



Dunia mengajari dengan kejam,
bahwa raibnya satu raga adalah nestapa yang paling telanjang.
Kau tidak pergi ke persimpangan kota,
tidak kembali ke tanah asal,
kau pulang ke asal mula yang tak bisa kujangkau dengan doa.

Dahulu kau adalah riuh yang menata sepi,
tawa yang mengetuk pintu tidurku,
wangi yang menetap di serat kain,
ocehan, geraman, dan resah yang kau titip tiap senja.
Kini semua itu menjelma gema di rongga dada.

Kepada siapa aku mengadu,
saat bunga mekar di atas rumah barumu.
Air mataku jatuh di antara kelopak,
menjadi bisik yang digantung angin.
Sampai kapan tubuh ini belajar berdiri,
tanpa meniti nama yang telah kau bawa pergi.

Yang tinggal hanya dua peninggalan,
namamu yang kupanggil dalam bisu,
dan aromamu yang bersembunyi di lipatan baju.
Ia datang tanpa permisi,
menyeretku pulang ke waktu yang telah dikubur.

Pergi.
Satu kata, seribu luka.
Kau tidak pergi,
kau hanya menyeberang ke seberang yang tiada jembatannya.
Dan aku tertinggal di sini,
menyulam hidup dengan separuh nyawa.


Ngada, 14 September 2026