Muara Segala Pulang
Karya: Padilah TanjungLangkah kian menyeret bayang
Raga karam dalam dekap lelah yang panjang
Jiwa rapuh di balik benteng keangkuhan
Namun ego menjelma karang, kaku bergeming melawan
Telapak tangan merindukan uluran
Bibir bergetar hendak mengeja kata tolong
Manik mata berbinar basah dalam penyesalan
Tetapi dinding kesombongan terlampau tinggi menjulang
Ia ingin disapa sebagai langit yang tak runtuh
Ingin dipuja sebagai musafir yang menolak teduh
Membawa asa terbang terlampau jauh
Tersesat di labirin dusta yang menumbuhkan keluh
Hingga semesta menghukum dalam sunyi
Tulang-tulang berderak, remuk tak bertepi
Isak tangis lebur mengoyak sepi
Sadar ia telah merindukan sua di rumah abadi
Langkah terkunci di batas senja
Raga mendingin kehilangan arah makna
Jiwa lelah memikul megahnya dusta
Sebab ego akhirnya luruh menjadi debu tak berharga
Ia menoleh pada jalan di belakang
Mencari jejak yang dulu sempat dibuang
Ke mana mereka yang dahulu singgah?
Apakah lelah merajut tanya?
Apakah jenuh merengkuh lelah?
Ke mana larinya dekap yang dulu ramah?
Padahal kini ia merintih hendak melangkah pulang
Angin malam berembus membawa tabib
Menyiram dada dengan kehangatan yang ajaib
Gema rindu memanggil dari ufuk yang gaib
Menarik tubuh yang lunglai bersujud penuh aib
Sebab di hadapan-Nya, pintu ampunan tak pernah terkunci
Dan ridho-Nya adalah dermaga suci
Tempat jiwa yang lelah karam menepi
Menemukan hangat pelukan, di sanalah arti pulang yang sejati
Sibuhuan, 12 September 2026