Cara Paling Jauh Untuk Pulang

Karya: Nawal Najah Khairiya


Aku bersinggah di tepi terminal,
menatap senja yang hampir hilang.
Orang-orang memandangku tajam,
seakan aku debu jalanan
yang tidak pantas ada di sana.

Aku bingung,
aku gelisah,
pikiranku kacau.

Aku ingin segera pulang,
memeluk hangat diriku sendiri
di depan perapian.

Aku berjalan dengan sisa lelah,
berharap pintu cepat terbuka,
berharap sambutan datang,
meski di antaranya telah hilang banyak.

Kakiku berpura-pura kuat
untuk kembali ke pangkuan,
mataku berpura-pura ceria
untuk sampai ke sana.

Tubuhku hampir jatuh,
pikiranku sudah menipis,
tetapi demi mengobati luka ini,
aku harus sampai pada genggaman nadi itu sendiri.

Dan aku pun tiba,
dengan kaki yang tidak utuh,
dengan nama yang tidak diingat.
Pintu itu terbuka,
tetapi bukan untukku.

Akhirnya aku mengerti,
kadang pulang
hanya soal belajar
memeluk diri sendiri
di depan perapian yang sudah padam.


Pekanbaru, 29 September 2026