Aksara tanpa penerjemah

Karya: Nabila Aura Zahra


Aksara tanpa penerjemah

Tinta meluruh pada lembaran bisu,
menampung keretakan yang enggan bersuara.

Jerit ditenun menjadi bayangan luka,
dibiarkan membusuk dimakan waktu.

Ada sesak yang tak sanggup dieja,
Dibekukan menjadi larik-larik rahasia.

Dunia menilainya sebagai keindahan,
tanpa tahu ada jiwa yang sedang menderita.

Bait ini bangkai dari segumpal rasa,
diasah agar aku tak makin gila.

Kertas ini bukan sekadar alas,
tapi makam bagi tangis yang ditahan.

Maka biarkan aku berlalu pelan,
menjelma asing di balik jejak tulisan.

Aku telah pergi jauh ke balik kata,
meninggalkan bangkai rasa tanpa sisa.

Biarlah rimanya meresap pekat,
hanya dipahami yang berteman dengan sakit,

bahwa karya adalah darah yang disulap bagai permata.



Majalengka, 4 November 2002