ARAH YANG TAK PERNAH HILANG
Karya: Muhammad Albi FarohAku datang dari hari yang panjang,
dari jalan-jalan yang menelan jejak,
dari kota yang menyimpan hujan
di lipatan mantelku.
Di dadaku, rindu berakar seperti benih
yang buta arah, tapi tahu
ke mana harus tumbuh.
Senja bukan hanya jingga.
Ia pintu yang perlahan terbuka,
dan di ambangnya,
nama kecilku dipanggil
oleh suara yang tak pernah menua.
Aku pernah menjadi burung
yang salah sangka pada langit.
Terbang tinggi, tapi bayang-bayangku
selalu jatuh ke arah yang sama:
rumah.
Di sana lampu minyak tak pernah mati.
Doa-doa tua berdetak seperti jantung.
Meja kayu menyimpan hangat telapak tangan.
Dan pintu itu—
tak pernah bertanya mengapa aku pergi.
Ia hanya berbisik: masuklah.
Pulang bukan sekadar kembali.
Pulang adalah menanggalkan topeng,
menyusutkan dunia menjadi pelukan,
mendengar tulang-tulangku
mengucap syukur
dalam bahasa yang tak sempat kupelajari.
Jika suatu hari aku tersesat lagi,
biarlah angin mengingatkan:
sejauh apa pun langkah,
hati selalu punya arah
yang menunjuk ke satu titik—
tempat aku pertama kali disebut
anak.
22 September 2026