Kehilangan Tanpa Upacara

Karya: LUSIANA ILSANDI


Subuh itu, aku melangkah tanpa menoleh
Buta pada takdir
Kursi kayu di sudut ruangan
Saksi terakhir
Tempatmu bersandar
Sebelum engkau pergi ditelan sunyi

Jarum jam membeku di angka sembilan
Kabar itu datang bagai petir yang menyambar
Gelisah yang mendidih di rongga dada
Rupanya firasat yang tak sempat kubaca

Teringat jemari keriputmu yang gemetar
Kubiarkan sendok logam tergelincir berdentang
Kemarahan konyol yang dulu kusemai
Pinta sederhana yang kutolak dengan angkuh
Dan kata maaf yang tercekik di tenggorokan
Tak pernah bermuara di pintu pendengaranmu

Engkau yang memperhatikanku dari singgasana lapuk itu
Mengeja setiap langkahku dalam pasrah dan doa
Kini menjelma derita rindu tak bertepi
Serta penyesalan yang sembilunya mengoyak dada

Andai waktu dapat kulipat kembali
Sudikah engkau mengampuni jiwa yang pongah ini
Yang bahkan tak sempat memeluk ragamu sekali lagi?


Purwodadi, 29 September 2026