Alamat yang Tak Lagi Dituju

Karya: Icha wijiyanti



Kau pergi seperti senja
perlahan,
namun meninggalkan langit
yang tak tahu bagaimana caranya kembali biru.

Sejak itu,
pintu tak lagi berharap pada ketukan,
dan jendela hanya memelihara
bayang yang tak pernah benar-benar ada.

Aku pernah menitipkan namamu
kepada angin,
berharap ia tahu jalan
menuju tempat kau menghilang.

Namun angin pulang dengan tangan kosong.

Mungkin,
ada orang-orang yang memang ditakdirkan singgah,
bukan menetap.

Dan aku baru mengerti
yang paling menyakitkan dari kepergian
bukan langkah yang menjauh,
melainkan saat seseorang yang pernah menjadi rumah
akhirnya terasa asing

bahkan ketika namanya
masih hafal di dalam dada
dan aku tak lagi punya alasan untuk memanggilnya pulang.


Medan,23 September 2026