Ketika Langkah Memilih Arah

Karya: Icca Qodrunanda, S.Pd


Aku menyusun ransel dari keberanian yang lama tersimpan,
menitipkan rumah pada bayang yang setia menjaga pintu.
Bukan karena benci pada kenangan yang tumbuh di halaman,
tetapi karena jalan memanggil dengan suara yang tidak bisa kutunggu.

Setiap langkah adalah surat perpisahan yang tidak berair mata,
sebab pergi bukanlah luka, melainkan benih yang menanti musim.
Kutinggalkan jejak di ambang pintu sebagai tanda cinta,
agar yang kutinggal tahu, aku pergi bukan untuk hilang, hanya untuk menyelam dalam mimpi yang lebih dalam dan diam.

Angin membawa namaku menuju cakrawala yang belum kukenal,
tempat asing yang kelak akan kusebut sebagai rumah kedua.
Aku pergi dengan hati yang penuh, bukan yang kosong dan kekal,
sebab kepergian sejati selalu membawa pulang jiwa yang lebih dewasa.


Palembang, 08 September 2026