Karya: Wira Manik, M.Pd.
Tujuh belas tahun kita bangun rumah,
lalu kauberi orang lain kunci jendelanya.
Kau menyebutnya sekadar percakapan,
seolah pengkhianatan harus selalu telanjang
agar pantas disebut dosa.
Bagimu, setia hanya perkara tubuh
yang tak berpindah ranjang.
Bagiku, kesetiaan adalah cahaya
yang pantang kauselundupkan ke rumah lain.
Pesan-pesanmu menjelma belati tanpa hulu,
kauhunuskan, lalu berpura-pura terluka.
Namanya kausimpan di balik layar,
serupa racun dalam gelas bening—
sementara aku dipaksa meneguk percaya
yang telah lama kehilangan rasa.
Betapa pongah pembelaanmu:
kau membakar rumah kita dengan kata-kata,
lalu bersumpah tanganmu tak menyentuh api.
Kini aku mengerti,
pengkhianatan tidak selalu meninggalkan jejak pada tubuh,
kadang-kadang ia bersembunyi di balik kata:
“Percayalah, kami hanya mengobrol.”
Medan, 20 Agustus 2026