Sela Anatasia - Terdakwa Bernama Aku (Lirika 11)

📅 Agustus 18, 2026

Terdakwa Bernama Aku

Karya: Sela Anatasia


Hari ini, ruang sidang dibuka
Mataku kosong dan kepalaku sibuk mencerna
Hakim mengetukkan palu tiga kali
Dan luka-luka lama dipanggil menjadi saksi

Hakim bertanya “siapa terdakwanya?”
Aku menunjuk seseorang di depan sana
Wajahnya kuingat selalu, matanya adalah mataku
Namanya—Aku

Barang bukti pertama; di atas meja diletakkan sebuah belati
“Siapa yang menghunusnya?” tanya hakim dalam sunyi
Aku diam, sebab aku tahu tangan siapa yang menggenggamnya
Aku, akulah yang menikam setiap kali hatiku berkata, “Sudah, cukup sampai di sini”
Akulah yang menekan bilahnya lebih dalam setiap kali ia pergi dan aku mengejarnya

Kata-kata yang kutelan
Agar tak terjadi pertengkaran
Dan air mata yang kusembunyikan
Agar ia tetap menganggapku tanpa keluhan

Barang bukti kedua; di sana, ada darah berjejak
Dari tempatku berdiri menuju tempatku pernah kehilangan diri
Setiap tetesnya adalah “tidak apa-apa” padahal ada luka yang ingin berteriak
Setiap tetesnya adalah “tidak apa-apa” yang dibungkam mati

Aku ingin memberi penyangkalan
Aku hanya mencintai, aku hanya takut kehilangan
Namun semua pembelaan berubah menjadi pengakuan

Benar–Aku mengira menelan luka adalah kesetiaan
Aku mengira mengampuni berkali-kali adalah pengorbanan
Aku mengira kehilangan diri adalah harga yang pantas agar ia tidak pergi
Aku mengira mengkhianati diri adalah konsekuensi untuk dicintai

Palu diketuk

Terdakwa dinyatakan bersalah pada kasus ini
Divonis sebagai pengkhianat atas dirinya sendiri
Hukumannya bukan penjara bukan pula kematian
Melainkan pulang kepada aku yang terlalu lama kutinggalkan


Jambi, 18 Agustus 2026