Karya: Sanjana Julia Luqman
Untukmu,
di sela-sela kepergianmu, kala itu,
dan aku yang selalu menunggumu untuk pulang.
Kepada jarak yang memisahkan kita,
yang menyisakan aku dan kamu nantinya.
Berharap kuat
Berharap bisa
Sampai pada ujung jarak yang tersisa.
Namun, aku gagal.
Gagal menjadi rumah untukmu pulang Gagal menjadi tempat ternyaman—
di saat dunia terasa terlalu bising
dan kamu membutuhkan seseorang
untuk sekadar berkata,
“pulanglah, aku masih di sini.”
Aku gagal menjadi tempat
yang ingin kau datangi
setelah lelahmu sepanjang hari.
Dan akhirnya,
kamu menemukannya.
Sebuah rumah yang lebih dekat,
yang pintunya tak perlu kau tempuh
dengan jarak sejauh yang kita punya.
Sebuah tempat yang begitu nyaman,
hingga perlahan
kau tak lagi mengingat
bahwa pernah ada aku
yang menunggumu di sini.
Sedangkan aku—
masih dengan rumah yang sama,
dengan pintu yang tak pernah kukunci,
dengan lampu yang sengaja kubiarkan menyala,
berharap suatu malam
langkahmu kembali terdengar
di depan halaman.
Padahal aku tahu,
barangkali kau tak akan pulang.
Bukan karena rumah ini tak lagi ada,
melainkan karena
kau telah menemukan rumahmu
di tempat lain.
Dan jika suatu hari
kau mengingatku sebagai seseorang
yang pernah menunggumu,
ingatlah satu hal:
aku tidak pernah benar-benar marah
karena kau memilih pergi.
Aku hanya sedih
karena ternyata
rumah yang selama ini kubangun untukmu
tak pernah menjadi tempat
yang ingin kau tinggali.
Selamat pulang, sayang.
Meski bukan kepadaku.
Aku di sini,
masih dengan pintu yang terbuka,
masih dengan namamu
yang sesekali kusebut dalam diam.
Menunggumu—
bukan untuk kembali,
melainkan untuk menerima
bahwa ada kepulangan
yang memang tidak pernah
ditakdirkan menuju rumahku.
Dan bila akhirnya
Kau benar-benar bahagia di rumah yang baru
Semoga aku pun suatu hari
belajar pulang—
kepada diriku sendiri.
Cikarang, 19 Agustus 2026