Ketika Luka Belajar Menyebut Namamu
Karya: Rindyani Ainur SetiawanAku pernah mengira
setia adalah bahasa yang kau mengerti.
Maka kutitipkan percaya
di antara kata-kata yang kau ucapkan,
kuserahkan harap
pada janji yang kau genggam
seolah tak akan pernah kau lepaskan.
Aku percaya.
Bahkan ketika dunia menyuruhku ragu,
aku tetap berdiri di sisimu.
Kukira kau adalah teduh
di tengah hujan yang panjang,
ternyata kau adalah badai
yang datang membawa kehancuran
ke rumah yang kubangun dengan kepercayaan.
Kau tersenyum di hadapanku,
sementara di belakangku
kau menanam dusta.
Kau menyebutku berharga,
namun diam-diam
kau mengajarkan hatimu
untuk berpaling.
Betapa lucunya pengkhianatan—
ia tidak datang membawa suara.
Ia berjalan perlahan,
bersembunyi di balik perhatian,
lalu menikam kepercayaan
ketika kita sedang lengah.
Aku tidak menangis karena kau pergi.
Aku menangis karena baru kusadari,
selama ini aku mempertahankan seseorang
yang bahkan tidak berusaha
mempertahankanku.
Kini, namamu masih tinggal
di sudut ingatan yang belum sempat padam.
Namun aku tak ingin membakarnya,
sebab dari abu luka itu
aku sedang belajar menjadi kuat.
Pergilah.
Bawalah semua janji yang pernah kau ucapkan.
Bawalah semua kata manis yang pernah kau tinggalkan.
Aku tak lagi membutuhkannya.
Sebab hari ini aku mengerti—
pengkhianatan bukan akhir dari hidupku,
melainkan akhir dari kepercayaanku kepadamu.
Dan jika kelak kau bertanya
mengapa aku tak lagi membuka pintu,
ingatlah.
kau sendiri yang mengajariku
bahwa tidak semua yang mengetuk
datang untuk tinggal.
Cianjur 11 Agustus 2026