Tatkala Engkau Mengkhianatiku
Karya: Putra Eka TamaDahulu kupikir cinta adalah rumah,
tempat dua jiwa beristirahat dari dunia;
kini rumah itu tinggal reruntuhan,
dan kaulah yang menyalakan apinya.
Aku mempercayakan malam-malamku kepadamu,
segala takut, segala doa, segala rahasia;
kuletakkan hatiku tanpa sedikit pun ragu,
seolah tanganmu tak mungkin menghancurkanku.
Betapa bodohnya aku.
Sebab tangan yang dahulu menggenggamku lembut,
ternyata menyimpan belati di balik punggung;
dan bibir yang dahulu bersumpah takkan pergi,
kini pandai mengucapkan dusta dengan begitu pedih.
Katakanlah, kekasihku,
apakah seluruh sumpah itu hanya permainan?
Apakah tatapan yang dahulu membuatku berdebar
hanyalah sandiwara yang kauhafalkan?
Jika demikian, mengapa kau tersenyum kepadaku
seakan aku adalah satu-satunya manusia di dunia?
Mengapa kau memanggil namaku
dengan kelembutan yang membuatku percaya?
Mengapa kau membiarkanku mencintaimu,
Hanya untuk merasakan jatuh sedalam itu?
Jakarta, 20 Agustus 2026