Pengkhianatan di balik singgahsana
Karya: MUHAMMAD FAIZAnak Adam telah menggenggam tangan yang kosong itu
Begitu lama, hingga takdir akhirnya bersuara.
Tak kusangka, begitu lihai pemilik mahkota
menancapkan belati di balik janji manisnya.
Kehidupan harus terus berjalan
dengan jantung yang teriris.
Seolah hidup hanya cahaya yang padam di tengah belantara.
Hanya topeng dusta yang menghiasi hidupnya,
meninggalkan retak yang tak terhitung dalamnya.
Dengan jejak merah yang membalut kemalangan.
Ingin rasanya membakar topeng kebaikannya
dengan gemuruh amarah.
Tetapi—
Siapakah kita?
Beribu kali Anak Adam mengguncang singgasananya.
Berjuta kali Anak Adam merobek topengnya.
Berapa kali lagi?
Sampai tak terhitung.
Hingga pada akhirnya, pengkhianatlah pemenangnya.
Apa dayanya insan ini, jika penguasa lebih bertakhta?
Bojonegoro, 8 Agustus 2026