PELUKAN YANG MENGAJARIKU MATI
Karya: Gusti Ayu Mirah MahardaniKau peluk aku erat,
seperti orang yang tahu
besok tak ada lagi bahu
untuk bersandar.
Aku percaya,
karena pelukanmu hangat
seperti api yang kukenal
sebelum ia membakar tulang-tulangku dari dalam.
Kau bisikkan namaku pelan,
seperti orang yang mengucapkan
doa untuk mayat.
Aku diam,
karena suaramu adalah
satu-satunya kompas yang kupunya
padahal kau telah mematahkannya
sejak awal.
Lalu kau lepas.
Perlahan,
seperti mencabut akar
dari tanah yang masih berdarah.
Jemarimu lepas satu per satu,
seolah engkau melepaskan
tubuh yang tak bernyawa.
Aku terjaga.
Tapi aku mati di pelukanmu
jauh sebelum kau pergi.
Kau bilang, “Maaf, ini yang terbaik.”
Tapi kau tak tahu
yang terbaik bagimu
adalah yang terakhir bagiku.
Pelukan bukan selalu
tentang selamat datang.
Kadang ia adalah cara terakhir
merasakan detak seseorang
sebelum ia berbalik dan menghilang.
Aku masih di sini.
Tapi pelukan yang tak pernah
mengajariku mati
ternyata tidak pernah ada.
Denpasar, 10 Agustus 2026