Rumah tanpa ayah
Karya: Gloria Bura TandiDulu engkau pernah bersumpah pada senja, untuk menemaniku dan melihat ku tumbuh dewasa, engkau menjanjikan bahwa kita akan senantiasa menikmati senja bersama.
Namun sekarang, semua sumpah itu tidak pernah engkau tepati. Kini engkau berdiri di altar lain, mengenakan janji suci yang dulu engkau ikrarkan untuk rumah kita.
Seperti memberiku setangkai bunga mawar yang tampak indah, namun sangat melukai kulitku saat ku sentuh.
Topeng bahagiamu terlalu terang, sampai membuatku runtuh. Engkau kembali membangun istana dengan mutiara baru, sedangkan aku menjadi puing yang hancur berantakan.
Ayah, kehancuran ini bukan pada cinta, tapi pada kepolosan yang engkau peluk dulu, pada genggam tanganku yang dulu engkau bilang: "tidak akan pernah kulepas."
Kini, diriku mencoba menyusun kembali puing yang telah engkau hancurkan satu-persatu, dan belajar menelan sepi yang engkau berikan.
Diriku mulai memahami bahwa ternyata, rumah yang indah sekali pun dapat hancur ketika pondasi itu tidak kokoh.
Perdana, 14 Agustus 2026