Karya: Fatiya Ainul Farasi
Dalam bait-bait doa, aku selalu menyelipkan namamu
Menunggumu ‘tuk kembali
Dan berhambur ke pelukanku
Agar kau ingat,
Aku adalah suar yang tak pernah padam.
Masih teringat jelas di kepalaku,
Saat kau berkata
“Suar, tunggu aku kembali esok pagi”
Aku tak mengerti esok pagi kapan.
Yang aku tahu, asal itu bersamamu,
Seribu tahun juga tak masalah bagiku.
Laut boleh saja merampas bayangmu
Dan angin menyesatkan arah pulangmu,
Namun di ujung tebing ini,
Ada aku,
Suar yang tak pernah redup.
Sayang,
Aku tak pernah meminta badai untuk reda,
Hanya memastikan:
Sesaat setelah deru ombak menghantammu
Masih ada tempat yang akan selalu mengenal namamu.
Surabaya, 19 Agustus 2026