Kursi yang Setia Menunggu
Karya: ARRUM NANDYA BALQISDi rumah itu,
sebuah kursi selalu menghadap pintu.
“Biarkan, “siapa tahu anak-anak pulang.”
Tahun-tahun berlari.
Aku sibuk mengejar dunia, sementara Mama mengeja namaku perlahan di ujung doa.
Mama setia,
meski rambut memutih lebih cepat daripada ingatanku tentang pulang.
Aku datang membawa cerita, tak pernah bertanya berapa air mata yang jatuh setelah pintu kembali tertutup.
Hingga suatu malam, aku pulang membawa rindu.
Kursi itu masih menunggu.
Cangkir kesukaan mama masih menyimpan hangat pagi.
Namun rumah kehilangan satu suara: “Sudah makan, Nak?”
Sejak itu,
tak ada lagi tangan yang menunggu di ambang pintu.
Barulah aku mengerti, Mama bukan tak pernah pergi.
Aku yang terlalu lama pergi.
Dan kesetiaan paling menyakitkan adalah cinta seorang ibu yang menunggu seumur hidup,
hanya untuk sekali lagi mendengar anaknya berkata:
“Ma, aku pulang.”
Baturaja, 10 Agustus 2026