Karya: Annisa Hasanatul. P, S.Pd
Kukira senyummu adalah warna paling teduh,
tempat resahku melukis rumah untuk pulang.
Kau datang seperti musim yang cerah,
menumbuhkan percaya di halaman gersang.
Namun, di balik sapuan hangat jemarimu,
tersembunyi belati setipis bayang senja.
Kau robek kanvas yang kubentang sepenuh jiwa,
lalu menyebut lukanya sekadar kesalahan.
Janji yang dulu berkilau seperti berlian,
kini menjelma kabut tanpa arah.
Tatapanmu yang pernah menjadi telaga,
menyimpan wajah asing di dasar yang tenang.
Aku tak lagi mengejar warna yang luntur,
atau memungut serpihan bingkai yang patah.
Biarlah hujan menghapus jejak langkahmu,
biarlah waktu mengeringkan sisa air mata.
Sebab dari kanvas yang kau koyak,
aku belajar melukis langitku sendiri.
Kini kutahu, luka bukan akhir bagi seluruh warna kehidupan kita.
Dan bila esok cahaya kembali singgah,
tak akan kuberikan lagi kuas
kepada tangan yang gemar mengkhianati.
Sintang, 19 Agustus 2026