Hujan yang perlahan sirna
Karya: Siti NajiyahDalam setiap lembar buku,
pasti tertulis namamu.
Dalam setiap celah ruang,
pasti aku selalu menemukanmu.
Dalam setiap tetes hujan,
pasti aku selalu memikirkanmu.
Aku yang mengetuk pintu tanpa suara,
bodohnya berharap agar pemilik rumah membuka.
Tembok waktu yang tak pernah tahu,
dan kursi interaksi yang tak pernah diduduki.
Aku, kamu, dan dia.
Aku yang terlalu memaksa.
Kamu yang tidak pernah peka.
Dan dia, yang katamu istimewa.
Aku selalu berjalan di tengah hujan.
Namun, kali ini hujan membisikkanku pelan,
agar aku berteduh sebentar di atap senja,
menikmati pelangi indah yang terbuat dari lara,
dan membiarkan hujan sirna bersama namamu.
Pandeglang 1 Juli 2026