Setelah Aku Belajar Percaya
Karya: Rizky RahayuMula-mula kau datang mengetuk,
membawa beberapa kalimat
yang belum sempat kusimpan
di laci bersama surat-surat lama.
Aku membiarkannya tergeletak di meja.
Belum kuberi nama.
Belum pula kubuang.
Aku hanya ingin tahu
apakah kau datang
untuk singgah sejenak,
atau mengenal alamat ini lebih lama.
Hari-hari berjalan tanpa banyak bunyi.
Entah sejak kapan,
dua cangkir mulai kucuci bersamaan.
Satu rak menyediakan ruang
yang sebelumnya tak pernah kupikirkan.
Aku tak lagi menghitung
berapa lama balasanmu tiba.
Mungkin di situlah
sesuatu mulai bertumbuh
diam-diam.
Lalu percakapan mengenal sela.
Pesan terakhir berhenti
di satu tanda baca.
Tak ada pintu dibanting.
Tak ada suara yang ditinggikan.
Hanya kebiasaan-kebiasaan kecil
yang perlahan kehilangan tempatnya.
Meja kembali cukup untuk satu cangkir
Kini aku menyusunnya kembali
ke sudut yang semula.
Aku tidak memanggil namamu
dari layar yang terus menyala.
Aku tidak menyusul
Jejak yang memilih memudar.
Barangkali ada pertemuan
yang memang selesai
tepat ketika seseorang
akhirnya berani membuka pintu.
Dan sejak hari itu,
aku belajar:
yang paling berapa jumlah kata dari puisi ini lama tinggal
bukan selalu seseorang,
melainkan cara kita
menghormati diri sendiri.
Mandailing Natal, 30 Juli 2026