Senja yang tak pernah pulang
Karya: Muhammad Amirul Samiruhan AlfalihDi beranda senja,
kutitipkan nama-nama yang tak lagi menetap.
Ada mimpi yang gugur,
ada langkah yang tersendat,
ada hati yang belajar merelakan.
Langit tak pernah menyalahkan matahari ketika harus tenggelam;
ia hanya percaya,
esok cahaya akan kembali dengan wajah yang lebih matang.
Maka ku biarkan jingga menjadi saksi:
bahwa kehilangan bukan akhir perjalanan,
melainkan ruang sunyi tempat keberanian tumbuh.
Dan saat malam benar-benar tiba,
aku tak lagi mencari siapa yang pergi,
sebab akhirnya ku temukan diriku sendiri.
Situbondo, 4 Juli 2026