Seni Merelakan Cahaya
Karya: Maylinda Putri MuslikhahTak ada yang lebih arif
daripada cahaya
yang memilih surut
ketika dunia masih memujanya.
Ia tak menawar waktu,
tak pula meratap
pada warna-warna
yang perlahan meninggalkan tubuhnya.
Barangkali kehilangan
bukan selalu tentang dirampas,
melainkan kesediaan
mengosongkan diri
agar malam memiliki ruang
tuk menyalakan sang bintang.
Matahari bahkan selalu tahu cara berpamitan yang paling indah;
ia tidak benar-benar hilang,
melainkan meminjamkan tubuhnya pada malam,
agar kita paham,
bahwa untuk menjadi terang yang baru,
seseorang harus rela habis dan terbakar
hingga menjadi abu.
Maka senja tak pernah meminta dikenang.
Ia cukup menitipkan semburat
pada mata yang sempat menatap,
lalu beranjak
tanpa membawa sesal.
Sejak itu kupercaya,
yang membuat sesuatu abadi
bukan lamanya bertahan,
melainkan keikhlasan
meninggalkan keindahan
tepat sebelum ia berubah
menjadi kenangan.
Demak, 10 Juli 2026