Hujan yang Menenun Keabadian
Karya: Farid Adiel Arya SatyaHujan menyulam sunyi di ujung senja,
setetes demi setetes menenun cahaya.
Tak pernah ia meminta langit mengingat,
namun bumi menyimpan jejaknya lekat.
Di dada sepi akar belajar teguh,
merengkuh gelap tanpa mengeluh.
Angin boleh datang mencabik harapan,
akar tetap setia memeluk kehidupan.
Keberanian bukan nyala yang gaduh,
melainkan hujan yang jatuh dengan teduh.
Ia menghidupi tanpa meminta dipuji,
menyuburkan harap di hati yang sunyi.
Hujan reda, harum tanah bernyanyi,
menitipkan hidup pada akar sepi.
Yang abadi bukan riuh yang dipuji,
melainkan jejak yang setia memberi.
Yogyakarta, 1 Juli 2026