Seni Menjadi Utuh
Karya: Evina Puji AmeliaAku berdiri di puncak sunyi,
saat bumi perlahan menanggalkan cahaya.
Burung-burung pulang, pepohonan menunduk,
menerima malam tanpa cemas atau keberatan.
Seolah perpisahan adalah bahasa
yang telah lama mereka pahami.
Hanya kami manusia,
yang kerap gemetar di hadapan perubahan,
menggenggam erat sesuatu yang ingin pergi,
lalu menyebut kehilangan sebagai luka.
Di hadapanku, senja membentangkan jingga.
Ia tidak menggurui, namun pada lenyapnya cahaya,
aku membaca sebuah pelajaran:
Bahwa yang menjadikan senja indah
bukanlah matahari yang menetap,
melainkan keberaniannya untuk tenggelam.
Bahwa malam tidak datang untuk merampas,
melainkan memberi ruang agar fajar lahir kembali.
Maka ketika bayang terakhir menghilang,
kutekadkan dalam dada:
kehidupan yang sejati tumbuh dari keberanian
untuk menerima peralihan.
Sebab seperti senja,
manusia belajar menjadi utuh dengan melepaskan,
bukan hanya mempertahankan.
Salatiga, 10 Juli 2026