Langit Yang Tak Membenci Hujan
Karya: Anisa WindrianiLangkah-langkah kehilangan arah,
Bergema di trotoar yang basah.
Setiap insan berlindung,
Hanya aku yang membiarkan rintik menghunjam.
Langit kala itu,
Laksana mahligai nirwana yang retak.
Anala yang dulu membakar,
Kini padam dihantam badai.
Aku menatap sejauh cakrawala,
Menjahit fragmen yang telah usang.
Apakah salah jika harapku terlalu tinggi?
Ataukah dosa jika aku sempat membenci hujan?
Dulu kukira semua bisa digenggam,
Hingga tangan takdir melepaskannya.
Dan aku jatuh
Bukan karena langit,
Tapi karena aku ingkar untuk basah.
Lama aku bertengkar dengan mendung,
Memusuhi takdir yang datang tanpa henti.
Hingga akhirnya raga ini letih...
Letih membenci derai air mata langit.
Dan kini aku belajar menerima,
Belajar bangkit di antara genangan.
Belajar menerima,
Sama seperti langit
Yang tak pernah membenci mendung
Di saat hujan menghampiri.
Padang, 05 juli 2026