Arunika dalam Rahim Senja
Karya: AISHA HANIN KINANTHIMereka menamai jingga itu senja,
Seolah setiap redup selalu berarti perpisahan,
Padahal, di balik tirai cakrawala,
Ia sedang memintal tenun kehidupan.
Lihatlah ufuk yang berselimut tembaga,
Angin yang menaburkan wewangian petang,
Serta benang-benang keemasan,
Yang dijalin binar pada langit yang membentang,
Bukankah sebuah anindya,
Justru lahir saat sesuatu bersedia berubah?
Maka, bila hari ini langkahku tersandung takdir,
Biarlah hatiku menjelma sebagai senja,
Teduh dalam pelukan melepaskan,
Kukuh dalam pangkuan harapan.
Sebab tiap jingga yang luruh ke bumi,
Tak pernah sekali pun mengabarkan usai,
Ia hanya beringsut sekedip mata,
Mempersilakan esok mengetuk pintu jiwa,
Bersama arunika dan embun yang murni,
Kembali memintal mimpi yang sempat tertunda.
Senja bukanlah halaman terakhir dari riwayat kita,
Ia adalah rahim bagi fajar,
Tempat keberanian dilahirkan kembali,
Dan setiap akhir menjelma,
Menjadi perubahan yang penuh makna.
Kab. Semarang, 6 Juli 2026