Karya: Zhahiyah Nabilah
Kau dan aku,
bisakah menjadi kita?
Kita dua arsitek keras kepala mendirikan menara dari bata-bata trauma,
kau semennya, aku pasrahnya.
Kau dan aku,
tidak pernah absen merawat luka yang menganga,
setiap retak adalah kompromi yang kita tambal secepatnya.
Namun, cinta adalah algoritma dingin yang tak punya hati.
Ia tidak mencatat berapa kali kita hampir mati,
di ruang tunggu yang kita sebut masa depan.
Apalah mau di kata,
logika rasa telah mencapai titik beku yang paling jenuh.
Koordinat kita bergeser tanpa sempat melambaikan tangan,
menyisakan dua punggung yang saling membelakangi keheningan.
Kita telah melompati badai, namun karam di air yang tenang.
Di ujung frekuensi yang kini sepenuhnya mati,
kita hanyalah sinyal yang gagal temu,
lalu sunyi.
Bangka Barat, 15 Mei 2026