Karya: Zerlinda Khuri Athar
Senandung lirih mengalun perlahan,
bayang-bayang dekat enggan bersentuhan.
Menghantam keras hati yang rapuh,
menjalar nyeri pada genggaman yang luluh.
Berkali-kali mata menadah langit,
menyemai asa setinggi pelangi.
Hidup tak selalu mampu segera bangkit,
meski luka terukir dalam relung hati.
Langkah demi langkah meniti waktu,
melewati perjalanan yang terjal dan berliku.
Harapan dirajut di atas letih yang jatuh,
sementara senyum tetap tumbuh dalam riuh.
Langkah layu perlahan mendekat,
menggenggam lembar-lembar yang berserakan.
Kilat harapan semakin redup dimakan malam,
menyisakan kecewa di pelupuk yang tenggelam.
Linangan air jatuh membasahi pipi,
meninggalkan sunyi di ruang diri.
Pikiran berputar tanpa henti,
mengiris lara jauh di dasar sanubari.
Namun, tangan kecil datang menggenggam jemari,
menghadirkan hangat selembut mentari.
Di antara runtuh yang nyaris terjadi,
lahir rasa aman yang tak mampu diingkari.
Cahaya pagi perlahan merekah,
mengusap pahit yang perlahan terlupa.
Langkah tegap kembali berdiri,
menumbuhkan keyakinan dalam hati sendiri.
Langkah kecil terus berjalan pelan,
bersabar menuju tujuan yang diimpikan.
Menyusun mimpi yang nyaris tenggelam,
hingga menjelma nyata dalam kehidupan.
Anugerah selalu menemukan jalannya pulang,
datang dari arah yang tak pernah disangka.
Sebab setiap luka mampu dipulihkan,
dan setiap harapan pantas diperjuangkan.
Bangkit dari getir keterpurukan,
saling menguatkan dalam perjalanan.
Sebab impian bukan api yang mudah padam,
melainkan diwujudkan bersama tangan yang bertahan.
Temanggung, 22 mei 2026