Ketika Tangan Kita Satu
Ketika Tangan Kita Satu
Fajar belum selesai membuka matanya,
namun kita sudah berdiri di tepi jalan yang panjang,
membawa lentera dari kata-kata dan doa,
melangkah berdua, bertiga, bersama-sama—pantang terbang sendirian.
Bukan karena satu orang terlalu lemah,
bukan pula karena jalan terlalu sempit untuk satu kaki,
melainkan karena pundak yang saling ditawarkan
adalah bahasa paling jujur yang pernah kita miliki.
Ketika kau jatuh, aku belum jatuh—
maka tanganku adalah tanah tempatmu berdiri kembali.
Ketika aku goyah, kau masih tegak—
maka suaramu adalah batu tempat kakiku berpijak lagi.
Peluh kita bukan cairan yang terbuang sia-sia,
ia meresap ke dalam tanah sebagai benih yang diam,
lalu tumbuh menjadi pohon yang akarnya saling berpelukan—
sebab akar yang sendiri mudah terbawa angin,
sedang akar yang bersatu menahan badai.
Ada saat lelah menjadi benalu di punggung,
ada saat keraguan mengetuk pintu tengah malam,
namun nama-nama yang kita serukan satu sama lain
adalah obor yang tidak padam oleh hujan maupun malam.
Kita bukan barisan yang seragam dalam satu warna,
kita adalah orkestra—masing-masing membawa nada berbeda,
dan justru dari perbedaan itulah lahir simfoni
yang tidak dapat diciptakan oleh satu alat musik saja.
Maka biarlah sejarah mencatat hari ini:
bukan siapa yang paling cepat mencapai puncak,
melainkan siapa yang menjulurkan tangan ke belakang
sambil terus melangkah maju—itulah juara yang sesungguhnya.
Karena ketika tangan kita satu,
bukan hanya beban yang terbagi rata—
tetapi juga cahaya, harapan, dan keberanian
menjadi milik kita semua, selamanya.
Malang, 8 Mei 2026