Karya: Sintiya Tri Anjani
Di bangunan ini, jiwa kita serasa mati,
duduk berkarib namun tak saling mengerti.
Jemari ini sibuk bergerak ke sana kemari,
mengejar jiwa yang telah lama mati.
Kau sedekat embun di pelupuk biji mataku,
namun asing bagai cakrawala keruh.
Kita bagai jembatan runtuh di tengah,
menatap seberang dengan tatapan yang lelah.
Bagai aroma rindu dari kopi yang mendingin,
terbang dibawa angin, menyusup ke sela batin.
Kau ada di sini, di sebelah denyut nadiku,
tapi jiwamu berkelana ke masa yang lalu.
Nafasmu berhembus lembut di pucuk rambutku,
namun pikiranmu melompat jauh.
Kini, kehilangan paling berdarah ialah ini:
Saat pelukan erat terasa bagai kuburan sunyi.
Bagai lentera padam, menyisakan luka tanya padamu:
Aku ini siapa bagimu?
Hanya pelabuhan semu?
Atau sebagai naungan singgahmu?
Jika hadirku seperti akara semu, mengapa kau memilihku?
Medan, 21 Mei 2026