Selvi Damayanti

Istana Tanpa Telinga

Di balik tembok kokoh yang mereka sebut rumah, aku hanya budak dari mimpi-mimpi yang bukan milikku. Ubin rumah ini asing, sesejuk sapaan yang hanya menuntut hasil, memandangku sebagai piala, bukan anak yang tengah menggigil. Setiap sudut ruang penuh dengan suara perintah, tapi mencekik setiap muara sedu sebelum sempat ia tumpah.

Aku adalah penghuni sah dalam denah yang mereka ciptakan, namun suaraku meluruh, terserap tembok-tembok bisu. Mereka memahat menara masa depan di atas kepalaku, tanpa sadar pondasi batinku telah lama lumat menjadi debu. Kami menghirup udara dari paru-paru rumah yang sama, tapi aku adalah asing di dalam rumah yang buta aksara. Kita sedekat nadi yang berdenyut di bawah kulit yang sama, namun serumit dua kutub yang ditakdirkan saling menolak rasa, sebab di istana ini, mereka terlalu sibuk bertakhta, hingga rungunya lupa cara mengeja luka.

Maros, 5 Mei 2026