Dagu yang Tak Pernah Menyentuh Bahu
Karya: Sela Anatasia
Bagaikan jiwa yang terpisah dari raga
Mati tak rela, hidup pun payah
Sukmanya telah lama direnggut paksa
Hatiku telah usang bersarang laba-laba; tak tersentuh peluk ayah
Tanganku bisa menyentuh keriputnya lenganmu
Berdampingan dan berdekatan, namun jauh dalam ingatan
Ragamu ada di sana, tapi hatiku tak bersamamu
Tanganku lelah meraba angan dalam bayangan
Telingaku bisa mendengar deru napasmu yang sesak
Bersebelahan dan bersahut-sahutan
Tapi telingaku tak biasa ditanya tentang ‘bagaimana harimu, nak?’
Asing dan tabu dalam lamunan
Kita makan di meja yang menjadi ruang temu
Mengunyah waktu dengan perlahan
Tapi lidahku tak pernah mencicipi hadirmu
Tak terasa; tak bermakna bagai bumbu yang terlupakan
Bukan maaf yang ku mau
Tapi peluk yang ku dambakan
Tak berjarak semu
Hanya tersentuh dalam doa dan harapan
Jambi, 14 Mei 2026