Elegi di Antara Nadi dan Cakrawala
Karya: Risna YanriDi bawah langit senja, bayangmu masih berjalan di lorong ingatan, seperti embun di daun waktu.
Kita pernah sedekat nadi dan denyut—mengalir tanpa suara, hingga jarak menjelma belati yang memisahkan arah.
Aku mengingatmu seperti laut mengingat pasang: datang dan pergi tanpa lupa.
Rindu turun diam-diam di pelupuk malam, membasahi hati yang pura-pura kemarau.
Kini kau terasa dekat, seperti aroma petrichor setelah hujan, namun juga jauh—sejauh bulan dari lautan.
Waktu mencuri banyak hal, tetapi tidak namamu.
Barangkali kita hanyalah puisi yang kehilangan titik akhir.
Dan aku tetap menjadi halaman yang menunggumu, meski tinta harapan terus dilunturkan hujan.
Sebab cinta paling dalam kadang hadir sebagai:
dekat, namun tak pernah benar-benar sampa
Gresik, 25 Mei 2026