Mungkin Kita Hanya Terlambat Dipahami Semesta
Karya: Rani IrmaPagi itu jendela masih terbuka,
angin masuk tanpa banyak bicara,
membawa namamu yang belum benar-benar pergi,
dan aku tahu
rasa ini belum selesai dengan kehilangan.
Aku merangkai namamu di pecahan tenggorokan,
setiap hurufnya terasa perih saat kusebut dalam doa.
Kau adalah luka yang kupeluk seperti rumah,
sebab di pelukmu
aku pernah belajar tenang sekaligus patah.
Aku menulis namamu berulang-ulang,
hingga lupa bagaimana cara benar-benar pulang.
Sama seperti lagu lama,
yang tetap terdengar indah
meski tak lagi bermakna sama.
Di kursi ini aku tinggal lebih lama dari waktu,
sementara namamu berputar seperti jam yang lupa berhenti.
Dan akhirnya aku sadar,
yang pergi bukan hanya langkahmu,
melainkan arah pulangku sendiri.
Pekanbaru, 24 Mei 2025