Karya: Rahmawati
Di bawah langit yang seolah mengejekku,
ia menggantung pucat tanpa warna,
seakan berkata
bahwa aku hanyalah bayang-bayang
di kota yang tak pernah benar-benar mengenalku.
Matahari tak lagi jatuh hangat di pundakku,
ia pergi terlalu cepat,
meninggalkanku bermain sendiri
bersama jalan-jalan asing
dan suara kendaraan yang tak pernah peduli.
Adakah kau dengar, Ayah,
bisikan hatiku yang kian hari kian kalut?
Aku tumbuh di antara rindu
yang tak pernah selesai disebut.
Bahkan angin pagi enggan menyentuh wajahku,
ia hanya datang sebentar
untuk mengacak langkah dan pikiranku,
lalu pergi tanpa pamit.
Pagi ini mendung sekali.
Gedung-gedung tinggi membuatku merasa kecil,
seolah keberadaanku
tak lebih dari titik sunyi
di antara ribuan manusia yang pulang
kepada rumahnya masing-masing.
Namun aku tahu,
ini jalan yang memang harus kutempuh.
Sejak usia yang terlalu belia
aku telah belajar
bahwa jarak bisa lebih panjang dari usia.
Aku telah terbiasa hidup jauh darimu, Ayah,
terbiasa menahan rindu
hingga ia berubah menjadi diam.
Tetapi anehnya,
semakin jauh langkahku pergi,
semakin dekat kau tinggal di dalam diri.
Sebab kau tak pernah benar-benar pergi.
Kau mengalir dalam darahku,
hidup di denyut nadiku,
menetap di setiap takut yang berhasil kulewati.
Dan ketika dunia terasa asing dan dingin,
aku sadar—
rumah itu bukan tempat,
melainkan dirimu
yang diam-diam tetap hidup
di dalam aku.
Sidenreng Rappang, 23 Mei 2026