Tanjung Enim Menyala
Aku hanya sebongkah batu bara di Tanjung Enim,
diam sendiri, rapuh tanpa arti dan arah.
Lalu kau datang membawa nyala kedua,
berkata, “Mari ayun langkah ini bersama.”
Sendiri kita runtuh seperti debu yang hilang,
bersama kita menjadi bara yang terus menyala terang.
Karena cinta bukan rintik hujan yang manja,
melainkan dua jiwa yang saling menjaga,
tak lelah mengayuh harapan sampai tujuan tiba.
Tanjung Enim, 7 Mei 2026