Karya: PUTRI AL JASTISYAH
Rumah ini masih bernama rumah,
tetapi hangatnya mulai lupa jalan pulang.
Ibu berbicara lewat suara piring,
ayah pulang membawa letih
lalu tertidur di depan berita,
dan aku tumbuh
seperti jam dinding~
terus bergerak
tanpa pernah benar-benar didengar.
Kita duduk semeja.
Dekat.
Sangat dekat.
Namun kata-kata hanya menjadi tamu
yang singgah sebentar lalu pergi.
Tak ada pertengkaran.
Tak ada air mata.
Hanya sunyi
yang pelan-pelan memakan isi rumah.
Aku rindu masa kecil
ketika tawa lebih nyaring daripada televisi,
ketika pulang berarti dipeluk,
bukan sekadar menutup pintu.
Kini kita hidup
seperti kota-kota asing
yang dipaksa berdampingan.
Dan bila suatu malam
tak ada lagi yang saling menyapa,
mungkin rumah ini tetap berdiri~
tetapi kita
telah lama hilang di dalamnya.
Sulawesi Selatan 7 April 2026