Nadila Irfanita

DIA ADA TANPA DIMINTA

Di bibir tebing malam, raga itu berdiri gemetar,
memegang beban hidup yang terasa semakin liar.
Tali di genggaman tampak sebagai satu-satunya jalan,
sebab dirasa dunianya telah habis dalam kegelapan.

Ke mana ia berlari saat mata hatinya meredup?
hanya mengejar bela kasih manusia yang kerap luput.
Ia sibuk mencari naungan pada rumah buta yang rapuh,
hingga lupa kepada siapa seharusnya ia bersimpuh.

Dalam linangan air mata, ia akhirnya menyadari,
Tuhan itu dekat, lebih dekat dari denyut nadi.
Manusia menuntut banyak hal untuk satu uluran tangan,
Namun Dia tak pernah meminta, tapi selalu memberikan ketenangan.

Di batas tebing itu, ia mengurungkan niat untuk menyerah,
rumah yang ia cari ternyata ada di setiap helaan nafasnya.
Jauh hanyalah perasaan, namun kasih-Nya tak pernah jeda,
di hatinya kini selalu ada Dia, hadir tanpa diminta.

Maros, 5 Mei 2026