Di Batas Genggaman
Cita-cita itu tumbuh
di mataku yang kurang tidur,
di antara buku lusuh
dan doa ibu yang tak pernah putus.
Rasanya dekat
seolah cukup satu langkah
untuk memeluk masa depan.
Namun hidup membentangkannya
seperti langit
yang indah, tetapi tak tergapai.
Aku masih remaja
dengan mimpi yang terlalu besar
untuk keadaan yang sederhana.
Sering kali aku ingin menyerah
saat kenyataan
lebih keras daripada harapan.
Tetapi setiap malam,
aku belajar bahwa air mata
tidak selalu berarti kalah.
Maka meski dunia
berulang kali menjauhkan impianku,
aku akan tetap berjalan
meski harus pincang
oleh kecewa yang kupendam sendiri.
Ambon, 06 Mei 2026