Karya: Dinda Amalia
Di sini, jemariku menari di atas kaca,
mengirimkan sapa yang melesat secepat cahaya.
Namun, mengapa hangatnya tak pernah benar-benar tiba?
Kita duduk di meja yang sama,
terpisah oleh sunyi yang bertahta di antara kita.
Matamu tertuju pada pendar biru yang dingin,
sementara mataku mencari jiwamu yang mulai asing.
Bukankah ini ironi yang paling sunyi?
Kita sedekat nadi,
namun sejauh galaksi yang enggan terjamah mimpi.
Aku merindukan suaramu yang nyata,
bukan sekadar deret huruf yang kehilangan makna.
Kapan kita akan benar-benar bertemu?
Di dunia tanpa sekat,
di mana tatapan mata lebih bermakna daripada sekadar ""mengerti"" yang kau tuliskan saat ini.
Musi Rawas, 20 Mei 2026