Karya: Andreas Fernando Tangko
Kau hadir di batas senjaku,
dekat hingga hembus napasmu hampir menyatu dengan sunyiku.
Namun di antara kita terbentang jarak yang tak bernama,
seperti remang yang ada, namun tak sanggup diraba.
Seperti bulan yang menggantung rendah di ufuk pandang,
bercahaya, namun dingin menyentuh rasa.
Kau tampak begitu nyata di hadapan mata,
nyatanya hanyalah pantulan di permukaan, indah dipandang, namun tak pernah benar-benar kumiliki.
Seberkas cahaya yang lepas dari genggaman...
Hangatnya menyentuh kulit, membakar pelan, namun tak pernah menetap di telapak jemari.
Setiap kali aku mengulurkan tangan,
yang kutemukan hanyalah bayangmu yang samar—
hancur lebur begitu saja saat berani kusentuh.
Namamu kupanggil pelan di antara hening,
tenggelam perlahan, bahkan sebelum sampai ke telingamu.
Mungkin kita hanyalah dua bintang di langit yang sama,
saling memandang, saling mengenal keberadaan,
bersinar beriringan, namun tak pernah diizinkan bertemu.
Kupang, 22 Mei 2026